Sabtu, 12 Januari 2013

(: Tangisan Bumi :)


Mendung merayu sendu ...

Menerkam mentari yang enggan bersembunyi

Merangkul gugusan awan, menarik kawanan angin ...

Perlahan, barisan burungpun mulali bernyanyi

Mengiringi sunyi sepi ini

Tik ...
Tik ...
Tik ...

Tetesan air berbondong-bondong menghampiri

Guntur menggelegar, cetar membahana

Mewarnai kesunyian dunia fana

Seolah tak mengira, tatkala bumi tlah menangis.

oleh : Yoga Febriana :)

Balada Anak Piyatu



Seorang anak menangis sendu
Sendiri memikirkan sesuatu
Tak ada satupun, ia katakan ketika itu
Dengan suara hati terus merintih pilu ….

Hari-hari dilewatinya …
Tanpa seorang yang sangat berarti baginya
Rasanya …
Bagaikan rintihan hati yang terus menikam sanubari

Setiap hari ia hanya diam dan membisu
Dan ternyata, hatinya haru biru
Ia memikirkan ibunya …
Yang telah tiada memikirkan dirinya
Karena penyakit yang terlalu lama diderita

Bahkan, iapun rela …
Rela memutuskan sekolahnya, demi sang Ibu tercinta
Adiknya yang masih kecil, tak lupa …
Ayahnya yang tak mampu lagi tuk bekerja
Yang akhirnya, memaksanya tuk jadi tulang punggung keluarga …

Tinggal bersama ayah juga adik tercinta
Tanpa seorang ibu disisinya …
Berdomisili disebuah rumah, beralaskan tanah
Beratap jerami, berdindingkan anyaman bambu tua

Bila dimalam gelap sunyi sepi
Hanya terdengar suara bambu yang tergoyahkan angin
Suara jangkrik yang begitu menggelitik
Tak lupa, nada tangisan adiknya karena lapar
Yang setia mengiringi …



Bait-bait tragedi
Lantunkan senandung sendu, yang terus menghantui
Meniti jalan terjal …
Sebagai kabut dalam kehidupan

Tapi, dengan sebuah kepercayaan diri
Percaya …,bahwa ibunya masih setia disisi
Menjaga, menemani dirinya …
Hingga kelak ia tiada dan untuk selamanya …



By : Yoga F./31/VIII-A (puisi smp)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Sabtu, 12 Januari 2013

(: Tangisan Bumi :)

Diposting oleh Yoga Febriana di 17.10 0 komentar

Mendung merayu sendu ...

Menerkam mentari yang enggan bersembunyi

Merangkul gugusan awan, menarik kawanan angin ...

Perlahan, barisan burungpun mulali bernyanyi

Mengiringi sunyi sepi ini

Tik ...
Tik ...
Tik ...

Tetesan air berbondong-bondong menghampiri

Guntur menggelegar, cetar membahana

Mewarnai kesunyian dunia fana

Seolah tak mengira, tatkala bumi tlah menangis.

oleh : Yoga Febriana :)

Balada Anak Piyatu

Diposting oleh Yoga Febriana di 17.07 0 komentar


Seorang anak menangis sendu
Sendiri memikirkan sesuatu
Tak ada satupun, ia katakan ketika itu
Dengan suara hati terus merintih pilu ….

Hari-hari dilewatinya …
Tanpa seorang yang sangat berarti baginya
Rasanya …
Bagaikan rintihan hati yang terus menikam sanubari

Setiap hari ia hanya diam dan membisu
Dan ternyata, hatinya haru biru
Ia memikirkan ibunya …
Yang telah tiada memikirkan dirinya
Karena penyakit yang terlalu lama diderita

Bahkan, iapun rela …
Rela memutuskan sekolahnya, demi sang Ibu tercinta
Adiknya yang masih kecil, tak lupa …
Ayahnya yang tak mampu lagi tuk bekerja
Yang akhirnya, memaksanya tuk jadi tulang punggung keluarga …

Tinggal bersama ayah juga adik tercinta
Tanpa seorang ibu disisinya …
Berdomisili disebuah rumah, beralaskan tanah
Beratap jerami, berdindingkan anyaman bambu tua

Bila dimalam gelap sunyi sepi
Hanya terdengar suara bambu yang tergoyahkan angin
Suara jangkrik yang begitu menggelitik
Tak lupa, nada tangisan adiknya karena lapar
Yang setia mengiringi …



Bait-bait tragedi
Lantunkan senandung sendu, yang terus menghantui
Meniti jalan terjal …
Sebagai kabut dalam kehidupan

Tapi, dengan sebuah kepercayaan diri
Percaya …,bahwa ibunya masih setia disisi
Menjaga, menemani dirinya …
Hingga kelak ia tiada dan untuk selamanya …



By : Yoga F./31/VIII-A (puisi smp)
 

Story Of ► Yog∂ Febri∂n∂ ◄ | Designed by www.rindastemplates.com | Layout by Digi Scrap Kits | Author by Your Name :)