Seorang
anak menangis sendu
Sendiri
memikirkan sesuatu
Tak
ada satupun, ia katakan ketika itu
Dengan
suara hati terus merintih pilu ….
Hari-hari dilewatinya …
Tanpa seorang yang sangat berarti
baginya
Rasanya …
Bagaikan rintihan hati yang terus
menikam sanubari
Setiap
hari ia hanya diam dan membisu
Dan
ternyata, hatinya haru biru
Ia
memikirkan ibunya …
Yang
telah tiada memikirkan dirinya
Karena
penyakit yang terlalu lama diderita
Bahkan, iapun rela …
Rela memutuskan sekolahnya, demi
sang Ibu tercinta
Adiknya yang masih kecil, tak lupa …
Ayahnya yang tak mampu lagi tuk
bekerja
Yang akhirnya, memaksanya tuk jadi
tulang punggung keluarga …
Tinggal
bersama ayah juga adik tercinta
Tanpa
seorang ibu disisinya …
Berdomisili
disebuah rumah, beralaskan tanah
Beratap
jerami, berdindingkan anyaman bambu tua
Bila dimalam gelap sunyi sepi
Hanya terdengar suara bambu yang
tergoyahkan angin
Suara jangkrik yang begitu
menggelitik
Tak lupa, nada tangisan adiknya
karena lapar
Yang setia mengiringi …
Bait-bait
tragedi
Lantunkan
senandung sendu, yang terus menghantui
Meniti
jalan terjal …
Sebagai
kabut dalam kehidupan
Tapi, dengan sebuah kepercayaan diri
Percaya …,bahwa ibunya masih setia
disisi
Menjaga, menemani dirinya …
Hingga kelak ia tiada dan untuk
selamanya …
By
: Yoga F./31/VIII-A (puisi smp)