Rabu, 29 Februari 2012

Kejujuran yang Menyelamatkan Jiwa :-$


Disuatu desa terpencil dipinggiran kota , tinggalah seorang anak laki-laki bersama 6 saudaranya, kehidupan keluarga ini terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan adiknya semua masih bersekolah sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga. Untuk membantu keuangan keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah , ia pergi kepasar untuk berjualan asongan.
Pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar , terjatuh dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan tersebut, kemudian dibukanya bungkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia, ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.
Tampak diraut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia tampak kebinggungan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya , pada saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari sipemilik bungkusan tersebut, sambil mencari-cari sipemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu , lalu ibu ini berkata “dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang”.
Uang untuk biaya rumah sakit,karena anak ibu baru saja mengalami kecelakan korban tabrak lari, saat ini anak ibu dalam keadaan kritis dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak, kalau tidak cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong.
Pagi ini ibu baru saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya rumah sakit, Ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa anak ibu.
Lalu anak kecil tersebut berkata,” benar bu, aku sedang mencari pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat membutuhkan. “Ini bu !, milik ibu”. setelah itu anak kecil tersebut langsung berlari pulang , sesampai dirumah ia ceritakan semua kejadian yang baru saja dialami kepada Ibu nya.
Lalu ibunya berkata , “ Benar anak ku ! “, kamu tidak boleh mengambil barang milik orang lain, walau pun itu dijalanan , karena barang itu bukan milik kita. Ibu sangat bangga pada mu nak, walau pun kita miskin , namun kamu KAYA dengan KEBAIKAN dan KEJUJURAN.
Untuk apa kita memiliki kekayaan yang melimpah, sementara kita harus mengorbankan nyawa orang lain . “Kamu sungguh anak yang baik nak” , ibu sangat bersyukur mempunyai anak seperti mu.
Hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui kebaikan dan kejujuran mu, kamu harus jaga terus kejujuranmu , karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana . “Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil”.
(“Matamu adalah pelita tubuhmu, Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi gelap. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” )
Thomas

Sumber : resensi.net

Siapa yang tak mati ?


Suatu ketika ada seorang janda yang sangat berduka karena anak satu-satunya mati. Sembari membawa jenasah anaknya, wanita ini menghadap Sang Guru untuk meminta mantra atau ramuan sakti yang bisa menghidupkan kembali anaknya.
Sang Guru mengamati bahwa wanita di hadapannya ini tengah tenggelam dalam kesedihan yang sangat mendalam, bahkan sesekali ia meratap histeris. Alih-alih memberinya kata-kata penghiburan atau penjelasan yang dirasa masuk akal, Sang Guru berujar:
“Aku akan menghidupkan kembali anakmu, tapi aku membutuhkan sebutir biji lada.”
“Itu saja syaratnya?” tanya wanita itu dengan keheranan.
“Oh, ya, biji lada itu harus berasal dari rumah yang anggota penghuninya belum pernah ada yang mati.”
Dengan “semangat 45″, wanita itu langsung beranjak dari tempat itu, hatinya sangat entusias, “Guru ini memang sakti dan baik sekali, dia akan menghidupkan anakku!”
Dia mendatangi sebuah rumah, mengetuk pintunya, dan bertanya: “Tolonglah saya. Saya sangat membutuhkan satu butir biji lada. Maukah Anda memberikannya?” “Oh, boleh saja,” jawab tuan rumah. “Anda baik sekali Tuan, tapi maaf, apakah anggota rumah ini belum pernah ada yang mati?” “Oh, ada, paman kami meninggal tahun lalu.” Wanita itu segera berpamitan karena dia tahu bahwa ini bukan rumah yang tepat untuk meminta biji lada yang dibutuhkannya.
Ia mengetuk rumah-rumah berikutnya, semua penghuni rumah dengan senang hati bersedia memberikan biji lada untuknya, tetapi ternyata tak satu pun rumah yang terhindar dari peristiwa kematian sanak saudaranya. “Ayah kami barusan wafat…,” “Kakek kami sudah meninggal…,” “Ipar kami tewas dalam kecelakaan minggu lalu…,” dan sebagainya.
Ke mana pun dia pergi, dari gubuk sampai istana, tak satu tempat pun yang memenuhi syarat tidak pernah kehilangan anggotanya. Dia malah terlibat dalam mendengarkan cerita duka orang lain. Berangsur-angsur dia menyadari bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaan ini; tak seorang pun yang terlepas dari penderitaan.
Pada penghujung hari, wanita ini kembali menghadap Sang Guru dalam keadaan batin yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia mengucap lirih, “Guru, saya akan menguburkan anak saya.” Sang Guru hanya mengangguk seraya tersenyum lembut.
Mungkin saja Sang Guru bisa mengerahkan kesaktian dan menghidupkan kembali anak yang telah mati itu, tetapi kalau pun bisa demikian, apa hikmahnya?
Bukankah anak tersebut suatu hari akan mati lagi juga? Alih-alih berbuat demikian Sang Guru membuat wanita yang tengah berduka itu mengalami pembelajaran langsung dan menyadari suatu kenyataan hidup yang tak terelakkan bagi siapa pun: siapa yang tak mati?
Penghiburan sementara belaka bukanlah solusi sejati terhadap peristiwa dukacita mendalam seperti dalam cerita di atas.
Penderitaan hanya benar-benar bisa diatasi dengan pengertian yang benar akan dua hal:
(1) kenyataan hidup sebagaimana adanya, bukan sebagaimana maunya kita, dan
(2) bahwasanya pada dasarnya penderitaan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang
bersumber dari dalam diri kita sendiri.

Sumber : resensi.net

Ku kira Beda, ternyata Sama :))


Kau yang dulu ku kenal
Kau yang dulu ku sapa
Kau yang dulu ku tau
Kau yang begitu indah
Kau yang begitu polos
Kau yang begitu berbeda
Tak tersamakan …

Selang waktu, yang trus berlalu
Kau tak tampakkan senyum manismu
Kau tak tampakkan kebahagiaanmu
Kau tak tampakkan kesedihmu
Kau tak tampakkan semua suka dukamu
Bahkan, kau tak tampakkan Jati Dirimu
Padaku …

Kau datang, dan pergi
Sesuka hati …
Tak sedikitpun, kau berfikir
Bahwa kau tlah menyakiti hati

Akhirnya, detik waktupun bicara padaku
Bahwa kau sudah tak seperti dulu
Kau tlah jajah, hati tiap insan
Kau tak punya belas kasihan
Kau lampiaskan semua kemarahan
Kau lampiaskan semua kekesalan
Pada hati yang sangat rentan

Saat ku tau jati dirinya
Ku hanya bisa tertawa
Hahaha …
Begitu lucu, kalakuannya
Suka berbohong, ingkari janjinya
Dengan mulut manisnya …
Yang dulu ucapkan kata cinta
Yang dulu ucapkan janji manisnya
Padaku, yang dulu dia puja

Betapa beruntungnya hatiku ini
Menolak kau, yang suka ingkar janji
Yang senang, menyakiti hati

Tak kusangka kau begitu
Maaf, dulu memang kusalah menilaimu
Ku kira kau berbeda, indah,  tak ada yang menyamaimu

Tapi kini …
Ku tlah yakin pada hati ini
Bahwa, ternyata kau sama dengan yang lain
Senang mempermainkan hati
Yang sama sekali tak patut, tuk ku puji 


By : Yoga Febriana 

Elinga ('^^,)


Ing wanci enjing
Nalika bagaskara anggelar rasa
Sumlenget ing angga rumasa
Tuwuh panguripan ing donya
Gedhe pangarep-areping karsa
Kepareng aku ngangeti sliramu
                                          Wanci siyang sansaya krasa
                                          Panasing surya mbakar driya
                                          Dleweran kringet tambah ndadra
                                          Luru rejeki rana-rana
                                          Nanging sing ditampa ora mingsra
                                          Laraning lara tanpa pangupa jiwa
                                           Ewon cacahe kang padha nandhang sangsara
Ati-atine tekaning wengi
Ing wengi kang sepi kebak wewasi
Sak dalu muput mikir lintang siji
Ana ngendi panggonan sinare
Kang bisa madhangi ati
                                        Padak esuk nembe krasa
                                        Dudu salahe sing nyipta
                                        Lakune dhewe kang ora lumrah
                                        Nrajang laranganing agama
                                        Saiki kari nampa dukaning Gusti
                                        Enggala eling mumpung durung kadung

Saking kulo : Yoga Febriana [asli tiang Jawa] :D

Pemutar Otak



Otak ini, berasio setiap saat
Bekerja dengan giat
Bertahan dengan kukuh nan kuat
Menahan semua cobaan yang ringan, juga berat

Mencoba isi dengan kalian para pemutar otak
Yang semakin hari, semakin menghentak
mtsc17783.pngMenghentakan otak ku disetiap babak

Sebenarnya, kuingin ungkapkan ini sejak lama !
Aku ingin putus denganmu Fisika !
Kau tak pernah mengerti, dengan kemampuan otakku
Yang tak secerdas, para ilmuan itu
Begitu juga, denganmu Matematika !
Kau slalu gantungkan jawaban dari otakku
Dengan sejuta rumus yang kau berikan padaku
Dan memaksa otakku tuk mengingatnya satu persatu

Tapi, itu tak berlaku untuknya
Bahasa Indonesia tercinta …
Dia, slalu buat otakku terbuka pada dunia
Meskipun, dia tak slalu beri jawaban kepastian yang nyata

Bahasa Indonesia adalah satu-satunya
Yang bisa mengerti kemampuan otak saya   
  Ingin, rasanya tak ingin pisah dengannya tuk selamanya
Diantara sekian, dari pemutar otak dimana otak ini pernah singgah

Oleh : Yoga Febriana

Olehku …


Olehku, pena ini menari diatas selembar kertas
Begitu tertatih tuk ungkapkan kritikan pedas
Tuk engkau, yang telah menggoreskan luka panas
Tuk engkau, yang merasa diposisi teratas
Tuk engkau, yang remehkan orang berdasarkan ras …

Jangan seenaknya kau bertingkah
Mentang-mentang kau punya jabatan tinggi dipemerintah
Kau acuhkan semua hasil musyawarah
Kau bilang, kau mau menjalankan amanah  …
Kau bilang, kau mau bersumpah …
Tuk mengabdi, jadi anggota tinggi pemerintah

Tapi apa ???
Kau malah serakah …
Kau tak pedulikan rakyat bawah …
Kau tak pedulikan nasib para petani sawah …
Kau tak pedulikan pula masa depan pemerintah …

Kau hanya pedulikan hidupmu yang mewah …
Kau manfaatkan jabatan tinggimu hanya tuk berserakah
Apa kau tak sadar jika kau salah ???
Sadarlah …
Kalian, para benalu rambat dipemerintah …

Tahukah, kau benalu rambat ???
Kepintaranmu itu sangat tak bermanfaat …
Jika hanya kau pakai tuk berkhianat …
Kau embat semua harta masyarakat …
Tuk kesenanganmu yang hanya sesaat …

Dan tahukah, kau benalu rambat ???
Kau telah berada dalam jalan yang sesat
Jadi, Segeralah kau bertaubat …
Sebelum kau menjadi orang mlarat

Hey, kalian para benalu rambat
Kalian itu seperti orang yang tidak punya bakat …
Jika terus bergantung pada harta masyarakat
Gunakan otak cerdas kalian tuk mengabdi pada Negara, juga rakyat
Jangan terus menerus jadi benalu rambat
Yang hanya bisa rugikan Negara, juga masyarakat …


Olehku, Yoga Febriana








Sakit Hati (Taufik Olegune)


Mengapa ku terbakar
saat kau tersenyum untuk yang lain
mengapa ku terhenyak
saat kau duduk di dekatku
mengapa ku marah
saat kau coba raih tanganku
mengapa ku menghindar
saat dirimu mendekat
apa yang salah
apa yang berbeda
aku tak mengerti
mengapa ini terjadi
aku tak tahu
kegalauan apa yang ada di hatiku
cinta kah?
atau justru benci?
jika cinta mengapa ku harus menghindarimu
jika benci
mengapa ku merindumu?
hati..
yak ada yang tahu
apa sebenarnya yang ia mau
jika pemiliknyapun tak mengerti
keterngan ap yg bisa dicari? :'(

Saat Kau Pergi

Gerimis Meringis ...
Tak kuasa menahan tangis ...

Hujan-hujan berlarian ...
Kabur dari pasungan mendung
Lelehkan kaca ...
Yang tersudut di Ujung mata ...

Samarkan bayang dari sosokmu
Jauh ...
Berlalu :'(


From : GFS

Selasa, 28 Februari 2012

^-^ Semua Tentang Musim Kegelisahan ^-^


Hujan ...
Kepadanya tanah-tanah kering dan tandus berharap
Seperti sepasang bangau letih yang sedang mengepak-ngepakkan sayapnya itu ...
Tertatih-tatih membelah angkasa, melayang-layang lunglai mencari genangan air ...
Tak ditemukan, walau berupa air yang hanya tetesan ....
Tanah-tanah sawah terbengkalai dalam pelukan kemarau
bermimipi tentang kesejukan yang ditawarkan selokan ...

Kerinduan itu berbicara tentang harapan agar semua musim adalah musim penghujan ...
hingga mampu melenyapkan musim kemarau ialah musim KEGELISAHAN
Demi langit yang tak sudi menurunkan hujan
Demi semesta yang kering kerontang....

Kepada tanah sawah yang basah DIA berteriak ...
"Aku kalah. AKU KALAH .... tak ada satupun manusia di dunia ini yang memahami aku, Duhai Semesta ???
Aku hanyalah seorang gadis yang lemah ditengah-tengah kehidupan manusia yang berhati baja."

DIA mencoba menghembuskan angin segar perubahan - Angin Harapan
Sejak saat itu ke saat ini, kebanggaanyya kian TERKIKIS, kian TIPIS, dan PUPUS pada musim KEGELISAHAN ... ^.^

13 Keunggulan Pensil lawan Komputer \(^▾^)/ \(^▾^)/

1. Pensil bisa diselipkan di telinga. Komputer juga bisa, tapi telinga siapa ?
2. Ujung pensil, kalau tumpul bisa diraut. Komputer tumpul, apa kabar ?
3. Pensil harganya murah. Komputer juga murah, asal bayarnya pakai potong gaji
4. Pensil bisa menulis di atas air. Komputer ? hehehe…
5. Listrik padam, pensil masih bisa dipakai nulis. Pada kejadian yang sama, komputer malah digondol maling
6. Pensil bisa untuk main lempar-lemparan.. Komputer juga bisa untuk lempar-lemparan, tapi siapa mau coba rasa lemparan komputer ?
7. Pensil bisa dipakai korek-korek hidung. Komputer kayaknya bisa, tapi jangan hidung saya ya ?
8. Pensil ngga bisa kena virus Michael Angelo. Komputer gudangnya virus
9. Pensil jatuh, tidak keras bunyinya, tidak mengganggu orang tidur. Jatuhkan komputer Anda, kemudian Anda tidur. Apa bisa ?
10. Pensil boleh ditaruh di bawah bantal. Komputer juga boleh, tapi bantalnya tidak boleh ditiduri
11. Pensil, tanpa dibuatkan program, bisa untuk nulis dan menggambar. Komputer tanpa program, apa jadinya ?
12. Pensil basah, bisa dijemur. Komputer basah, nyetrum !
13. Itulah, kata orang yang baru bisa beli pensil!

ĦAº°˚haº°˚ĦAº°˚haº°˚ =D

By: Yugha YOga FebriAnana
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Rabu, 29 Februari 2012

Kejujuran yang Menyelamatkan Jiwa :-$

Diposting oleh Yoga Febriana di 05.11 0 komentar

Disuatu desa terpencil dipinggiran kota , tinggalah seorang anak laki-laki bersama 6 saudaranya, kehidupan keluarga ini terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan adiknya semua masih bersekolah sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga. Untuk membantu keuangan keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah , ia pergi kepasar untuk berjualan asongan.
Pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar , terjatuh dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan tersebut, kemudian dibukanya bungkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia, ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.
Tampak diraut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia tampak kebinggungan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya , pada saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari sipemilik bungkusan tersebut, sambil mencari-cari sipemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu , lalu ibu ini berkata “dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang”.
Uang untuk biaya rumah sakit,karena anak ibu baru saja mengalami kecelakan korban tabrak lari, saat ini anak ibu dalam keadaan kritis dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak, kalau tidak cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong.
Pagi ini ibu baru saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya rumah sakit, Ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa anak ibu.
Lalu anak kecil tersebut berkata,” benar bu, aku sedang mencari pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat membutuhkan. “Ini bu !, milik ibu”. setelah itu anak kecil tersebut langsung berlari pulang , sesampai dirumah ia ceritakan semua kejadian yang baru saja dialami kepada Ibu nya.
Lalu ibunya berkata , “ Benar anak ku ! “, kamu tidak boleh mengambil barang milik orang lain, walau pun itu dijalanan , karena barang itu bukan milik kita. Ibu sangat bangga pada mu nak, walau pun kita miskin , namun kamu KAYA dengan KEBAIKAN dan KEJUJURAN.
Untuk apa kita memiliki kekayaan yang melimpah, sementara kita harus mengorbankan nyawa orang lain . “Kamu sungguh anak yang baik nak” , ibu sangat bersyukur mempunyai anak seperti mu.
Hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui kebaikan dan kejujuran mu, kamu harus jaga terus kejujuranmu , karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana . “Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil”.
(“Matamu adalah pelita tubuhmu, Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi gelap. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” )
Thomas

Sumber : resensi.net

Siapa yang tak mati ?

Diposting oleh Yoga Febriana di 05.07 0 komentar

Suatu ketika ada seorang janda yang sangat berduka karena anak satu-satunya mati. Sembari membawa jenasah anaknya, wanita ini menghadap Sang Guru untuk meminta mantra atau ramuan sakti yang bisa menghidupkan kembali anaknya.
Sang Guru mengamati bahwa wanita di hadapannya ini tengah tenggelam dalam kesedihan yang sangat mendalam, bahkan sesekali ia meratap histeris. Alih-alih memberinya kata-kata penghiburan atau penjelasan yang dirasa masuk akal, Sang Guru berujar:
“Aku akan menghidupkan kembali anakmu, tapi aku membutuhkan sebutir biji lada.”
“Itu saja syaratnya?” tanya wanita itu dengan keheranan.
“Oh, ya, biji lada itu harus berasal dari rumah yang anggota penghuninya belum pernah ada yang mati.”
Dengan “semangat 45″, wanita itu langsung beranjak dari tempat itu, hatinya sangat entusias, “Guru ini memang sakti dan baik sekali, dia akan menghidupkan anakku!”
Dia mendatangi sebuah rumah, mengetuk pintunya, dan bertanya: “Tolonglah saya. Saya sangat membutuhkan satu butir biji lada. Maukah Anda memberikannya?” “Oh, boleh saja,” jawab tuan rumah. “Anda baik sekali Tuan, tapi maaf, apakah anggota rumah ini belum pernah ada yang mati?” “Oh, ada, paman kami meninggal tahun lalu.” Wanita itu segera berpamitan karena dia tahu bahwa ini bukan rumah yang tepat untuk meminta biji lada yang dibutuhkannya.
Ia mengetuk rumah-rumah berikutnya, semua penghuni rumah dengan senang hati bersedia memberikan biji lada untuknya, tetapi ternyata tak satu pun rumah yang terhindar dari peristiwa kematian sanak saudaranya. “Ayah kami barusan wafat…,” “Kakek kami sudah meninggal…,” “Ipar kami tewas dalam kecelakaan minggu lalu…,” dan sebagainya.
Ke mana pun dia pergi, dari gubuk sampai istana, tak satu tempat pun yang memenuhi syarat tidak pernah kehilangan anggotanya. Dia malah terlibat dalam mendengarkan cerita duka orang lain. Berangsur-angsur dia menyadari bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaan ini; tak seorang pun yang terlepas dari penderitaan.
Pada penghujung hari, wanita ini kembali menghadap Sang Guru dalam keadaan batin yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia mengucap lirih, “Guru, saya akan menguburkan anak saya.” Sang Guru hanya mengangguk seraya tersenyum lembut.
Mungkin saja Sang Guru bisa mengerahkan kesaktian dan menghidupkan kembali anak yang telah mati itu, tetapi kalau pun bisa demikian, apa hikmahnya?
Bukankah anak tersebut suatu hari akan mati lagi juga? Alih-alih berbuat demikian Sang Guru membuat wanita yang tengah berduka itu mengalami pembelajaran langsung dan menyadari suatu kenyataan hidup yang tak terelakkan bagi siapa pun: siapa yang tak mati?
Penghiburan sementara belaka bukanlah solusi sejati terhadap peristiwa dukacita mendalam seperti dalam cerita di atas.
Penderitaan hanya benar-benar bisa diatasi dengan pengertian yang benar akan dua hal:
(1) kenyataan hidup sebagaimana adanya, bukan sebagaimana maunya kita, dan
(2) bahwasanya pada dasarnya penderitaan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang
bersumber dari dalam diri kita sendiri.

Sumber : resensi.net

Ku kira Beda, ternyata Sama :))

Diposting oleh Yoga Febriana di 04.54 0 komentar

Kau yang dulu ku kenal
Kau yang dulu ku sapa
Kau yang dulu ku tau
Kau yang begitu indah
Kau yang begitu polos
Kau yang begitu berbeda
Tak tersamakan …

Selang waktu, yang trus berlalu
Kau tak tampakkan senyum manismu
Kau tak tampakkan kebahagiaanmu
Kau tak tampakkan kesedihmu
Kau tak tampakkan semua suka dukamu
Bahkan, kau tak tampakkan Jati Dirimu
Padaku …

Kau datang, dan pergi
Sesuka hati …
Tak sedikitpun, kau berfikir
Bahwa kau tlah menyakiti hati

Akhirnya, detik waktupun bicara padaku
Bahwa kau sudah tak seperti dulu
Kau tlah jajah, hati tiap insan
Kau tak punya belas kasihan
Kau lampiaskan semua kemarahan
Kau lampiaskan semua kekesalan
Pada hati yang sangat rentan

Saat ku tau jati dirinya
Ku hanya bisa tertawa
Hahaha …
Begitu lucu, kalakuannya
Suka berbohong, ingkari janjinya
Dengan mulut manisnya …
Yang dulu ucapkan kata cinta
Yang dulu ucapkan janji manisnya
Padaku, yang dulu dia puja

Betapa beruntungnya hatiku ini
Menolak kau, yang suka ingkar janji
Yang senang, menyakiti hati

Tak kusangka kau begitu
Maaf, dulu memang kusalah menilaimu
Ku kira kau berbeda, indah,  tak ada yang menyamaimu

Tapi kini …
Ku tlah yakin pada hati ini
Bahwa, ternyata kau sama dengan yang lain
Senang mempermainkan hati
Yang sama sekali tak patut, tuk ku puji 


By : Yoga Febriana 

Elinga ('^^,)

Diposting oleh Yoga Febriana di 04.50 0 komentar

Ing wanci enjing
Nalika bagaskara anggelar rasa
Sumlenget ing angga rumasa
Tuwuh panguripan ing donya
Gedhe pangarep-areping karsa
Kepareng aku ngangeti sliramu
                                          Wanci siyang sansaya krasa
                                          Panasing surya mbakar driya
                                          Dleweran kringet tambah ndadra
                                          Luru rejeki rana-rana
                                          Nanging sing ditampa ora mingsra
                                          Laraning lara tanpa pangupa jiwa
                                           Ewon cacahe kang padha nandhang sangsara
Ati-atine tekaning wengi
Ing wengi kang sepi kebak wewasi
Sak dalu muput mikir lintang siji
Ana ngendi panggonan sinare
Kang bisa madhangi ati
                                        Padak esuk nembe krasa
                                        Dudu salahe sing nyipta
                                        Lakune dhewe kang ora lumrah
                                        Nrajang laranganing agama
                                        Saiki kari nampa dukaning Gusti
                                        Enggala eling mumpung durung kadung

Saking kulo : Yoga Febriana [asli tiang Jawa] :D

Pemutar Otak

Diposting oleh Yoga Febriana di 04.46 0 komentar


Otak ini, berasio setiap saat
Bekerja dengan giat
Bertahan dengan kukuh nan kuat
Menahan semua cobaan yang ringan, juga berat

Mencoba isi dengan kalian para pemutar otak
Yang semakin hari, semakin menghentak
mtsc17783.pngMenghentakan otak ku disetiap babak

Sebenarnya, kuingin ungkapkan ini sejak lama !
Aku ingin putus denganmu Fisika !
Kau tak pernah mengerti, dengan kemampuan otakku
Yang tak secerdas, para ilmuan itu
Begitu juga, denganmu Matematika !
Kau slalu gantungkan jawaban dari otakku
Dengan sejuta rumus yang kau berikan padaku
Dan memaksa otakku tuk mengingatnya satu persatu

Tapi, itu tak berlaku untuknya
Bahasa Indonesia tercinta …
Dia, slalu buat otakku terbuka pada dunia
Meskipun, dia tak slalu beri jawaban kepastian yang nyata

Bahasa Indonesia adalah satu-satunya
Yang bisa mengerti kemampuan otak saya   
  Ingin, rasanya tak ingin pisah dengannya tuk selamanya
Diantara sekian, dari pemutar otak dimana otak ini pernah singgah

Oleh : Yoga Febriana

Olehku …

Diposting oleh Yoga Febriana di 04.44 0 komentar

Olehku, pena ini menari diatas selembar kertas
Begitu tertatih tuk ungkapkan kritikan pedas
Tuk engkau, yang telah menggoreskan luka panas
Tuk engkau, yang merasa diposisi teratas
Tuk engkau, yang remehkan orang berdasarkan ras …

Jangan seenaknya kau bertingkah
Mentang-mentang kau punya jabatan tinggi dipemerintah
Kau acuhkan semua hasil musyawarah
Kau bilang, kau mau menjalankan amanah  …
Kau bilang, kau mau bersumpah …
Tuk mengabdi, jadi anggota tinggi pemerintah

Tapi apa ???
Kau malah serakah …
Kau tak pedulikan rakyat bawah …
Kau tak pedulikan nasib para petani sawah …
Kau tak pedulikan pula masa depan pemerintah …

Kau hanya pedulikan hidupmu yang mewah …
Kau manfaatkan jabatan tinggimu hanya tuk berserakah
Apa kau tak sadar jika kau salah ???
Sadarlah …
Kalian, para benalu rambat dipemerintah …

Tahukah, kau benalu rambat ???
Kepintaranmu itu sangat tak bermanfaat …
Jika hanya kau pakai tuk berkhianat …
Kau embat semua harta masyarakat …
Tuk kesenanganmu yang hanya sesaat …

Dan tahukah, kau benalu rambat ???
Kau telah berada dalam jalan yang sesat
Jadi, Segeralah kau bertaubat …
Sebelum kau menjadi orang mlarat

Hey, kalian para benalu rambat
Kalian itu seperti orang yang tidak punya bakat …
Jika terus bergantung pada harta masyarakat
Gunakan otak cerdas kalian tuk mengabdi pada Negara, juga rakyat
Jangan terus menerus jadi benalu rambat
Yang hanya bisa rugikan Negara, juga masyarakat …


Olehku, Yoga Febriana








Sakit Hati (Taufik Olegune)

Diposting oleh Yoga Febriana di 01.07 0 komentar

Mengapa ku terbakar
saat kau tersenyum untuk yang lain
mengapa ku terhenyak
saat kau duduk di dekatku
mengapa ku marah
saat kau coba raih tanganku
mengapa ku menghindar
saat dirimu mendekat
apa yang salah
apa yang berbeda
aku tak mengerti
mengapa ini terjadi
aku tak tahu
kegalauan apa yang ada di hatiku
cinta kah?
atau justru benci?
jika cinta mengapa ku harus menghindarimu
jika benci
mengapa ku merindumu?
hati..
yak ada yang tahu
apa sebenarnya yang ia mau
jika pemiliknyapun tak mengerti
keterngan ap yg bisa dicari? :'(

Saat Kau Pergi

Diposting oleh Yoga Febriana di 00.32 0 komentar
Gerimis Meringis ...
Tak kuasa menahan tangis ...

Hujan-hujan berlarian ...
Kabur dari pasungan mendung
Lelehkan kaca ...
Yang tersudut di Ujung mata ...

Samarkan bayang dari sosokmu
Jauh ...
Berlalu :'(


From : GFS

Selasa, 28 Februari 2012

^-^ Semua Tentang Musim Kegelisahan ^-^

Diposting oleh Yoga Febriana di 21.38 0 komentar

Hujan ...
Kepadanya tanah-tanah kering dan tandus berharap
Seperti sepasang bangau letih yang sedang mengepak-ngepakkan sayapnya itu ...
Tertatih-tatih membelah angkasa, melayang-layang lunglai mencari genangan air ...
Tak ditemukan, walau berupa air yang hanya tetesan ....
Tanah-tanah sawah terbengkalai dalam pelukan kemarau
bermimipi tentang kesejukan yang ditawarkan selokan ...

Kerinduan itu berbicara tentang harapan agar semua musim adalah musim penghujan ...
hingga mampu melenyapkan musim kemarau ialah musim KEGELISAHAN
Demi langit yang tak sudi menurunkan hujan
Demi semesta yang kering kerontang....

Kepada tanah sawah yang basah DIA berteriak ...
"Aku kalah. AKU KALAH .... tak ada satupun manusia di dunia ini yang memahami aku, Duhai Semesta ???
Aku hanyalah seorang gadis yang lemah ditengah-tengah kehidupan manusia yang berhati baja."

DIA mencoba menghembuskan angin segar perubahan - Angin Harapan
Sejak saat itu ke saat ini, kebanggaanyya kian TERKIKIS, kian TIPIS, dan PUPUS pada musim KEGELISAHAN ... ^.^

13 Keunggulan Pensil lawan Komputer \(^▾^)/ \(^▾^)/

Diposting oleh Yoga Febriana di 20.55 0 komentar
1. Pensil bisa diselipkan di telinga. Komputer juga bisa, tapi telinga siapa ?
2. Ujung pensil, kalau tumpul bisa diraut. Komputer tumpul, apa kabar ?
3. Pensil harganya murah. Komputer juga murah, asal bayarnya pakai potong gaji
4. Pensil bisa menulis di atas air. Komputer ? hehehe…
5. Listrik padam, pensil masih bisa dipakai nulis. Pada kejadian yang sama, komputer malah digondol maling
6. Pensil bisa untuk main lempar-lemparan.. Komputer juga bisa untuk lempar-lemparan, tapi siapa mau coba rasa lemparan komputer ?
7. Pensil bisa dipakai korek-korek hidung. Komputer kayaknya bisa, tapi jangan hidung saya ya ?
8. Pensil ngga bisa kena virus Michael Angelo. Komputer gudangnya virus
9. Pensil jatuh, tidak keras bunyinya, tidak mengganggu orang tidur. Jatuhkan komputer Anda, kemudian Anda tidur. Apa bisa ?
10. Pensil boleh ditaruh di bawah bantal. Komputer juga boleh, tapi bantalnya tidak boleh ditiduri
11. Pensil, tanpa dibuatkan program, bisa untuk nulis dan menggambar. Komputer tanpa program, apa jadinya ?
12. Pensil basah, bisa dijemur. Komputer basah, nyetrum !
13. Itulah, kata orang yang baru bisa beli pensil!

ĦAº°˚haº°˚ĦAº°˚haº°˚ =D

By: Yugha YOga FebriAnana
 

Story Of ► Yog∂ Febri∂n∂ ◄ | Designed by www.rindastemplates.com | Layout by Digi Scrap Kits | Author by Your Name :)