Kamis, 18 Juli 2013

Sujudku...


Dalam hening ku meminta
Sejuta do'a, sejuta harap kupanjatkan...

Nafasku bertasbihkan nama-Mu
Fikirku tak lepas dari semua angan tentang-Mu
Pandangku bertatap ayat-ayat suci-Mu
Di kanan kiriku terdengar jelas pujian suci asma-Mu

Dikala aku bersorak gembira
Dikala aku dilanda duka
Dikala aku berputus asa
Dikala aku berlumur dosa
Dikala aku dijemput sang pencabut nyawa
Kumeminta dalam sujudku...
Izinkanlah ku menyebut asma-Mu 


Dari lubuk hatiku: Yoga Febriana


Minggu, 23 Juni 2013

Fatamorgana

Menyisir kelam yang dilanda kehampaan
Terdekap sunyi rawan petaka
Disela – sela angin yang berhembus
Diantara sorotan balik sinar – sinar tajam
Bergerak lantang melaju, menikung
Bertubi – tubi suara sengau mengintai
Ribuan roda bahkan saling beradu
Tak pandang, sekecil butir pasir ataukah sebesar batu gunung
Hantaman – hantaman keras
Gesekan – gesekan miris
Tak mampu hindari, kerasnya menekan mendesak
Tersingkir dari arena, membuat semakin tersungkur
Membiru, menjadi – jadi bahkan mati
Ya ! Diatas derai – derai fatamorgana ini mereka berlalu
Terus berpacu...


Tertanda: Yoga Febriana

Selasa, 28 Mei 2013

UNFORGETTABLE !

Secuil kisah yang berawal dari perjumpaan 2 Juli 2012, ketika kita belum saling mengenal :)




Dari perjumpaan itu, perlahan kita mengenal 31 karakter berbeda :')







Percikan canda tawamu, selalu mengalir dalam sanubariku KAWAN :')









Saling menuntun, berbenah diri tuk menata serpihan rohani :)








Dengan kemurnian jiwa, bersama kita tuangkan sejuta imajinasi dalam sebuah ilustrasi :D





Sahabatku, ingatkah dikau dikala kita berbagi kasih, suka dan duka dengan saudara kita? :)







Ingat? Ketika 5 Mei bercerita? Susah, senang, kita lewati bersama KAWAN :')










Meskipun waktu terus berjalan
Meskipun kita tak mampu tuk hentikan..
Meskipun kita terpisahkan keadaan
Meskipun kita tak mampu tuk bertahan..
Kita tetap satu ! Kita tetap satu !
Kita tetap kita yang telah menyatu..
Kita tetap kita yang senantiasa berduka, tertawa bersama...



KITA TETAP KITA, REMAJA UNIK SEPULUH HA !


Meskipun...

Teruntuk: RUSH

Meskipun waktu terus berjalan
Meskipun kita tak mampu tuk hentikan...
Meskipun mentari terus menyengat
Meskipun kita tak mampu tuk menghambat...
Meskipun tawa selalu menggelitik
Meskipun kita tak mampu tuk berkutik...


Meskipun duka kadang datang
Meskipun kita tak mampu tuk menghadang...
Meskipun masalah silih berganti menyakiti
Meskipun kita tak mampu tuk hianati...
Meskipun kemenangan sulit diraih
Meskipun kita tak mampu tuk berdalih...
Meskipun kekalahan mudah menerpa
Meskipun kita tak mampu tuk menyangka...
Meskipun keadaan memisahkan
Meskipun kita tak mampu tuk bertahan
Meskipun kebersamaan itu lenyap
Meskipun kita tak mampu tuk berharap
Kita tetap satu ! Dan kita tetaplah satu !
Kita tetap kita yang telah menyatu
Kita tetap kita yang senantiasa tertawa
Kita tetap kita yang senantiasa bersama
Dan kita tetap kita Remaja Unik Sepuluh Ha...

Olehku: 13767



Jumat, 17 Mei 2013

Lukisan Senja


Tatkala mentari tlah menundukkan sinarnya
Meranggas, meninggalkan dunia
Grombolan awan mulai terpendam
Terkubur sinar yang tenggelam
Tertusuk angin yang menerpa...

Desiran ombak menghantam pantai
Terbuai senandung nyiur melambai
Barisan burung bernyanyi sayu
Berpacu, beradu menantang sendu...

Olehku: Yoga Febriana :)

Sabtu, 06 April 2013

CAPTURE LIFE


 I need the Lord to do something in my life, to show me everything's going to be okay!


there's always something beautiful outside :)




My ambition is to be HAPPY :D








Sabtu, 02 Maret 2013

Hidup itu Sederhana...


Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah,dan hal itu terlihat oleh penginterview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

* Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap.Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.

* Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik. "Ibu menjawab: "Mengapa?" Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah."

* Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur. "Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."

* Ternyata membina seorang anak sangat mudah,cukup membiarkan dia rajin bekerja.

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan,bagaimana cara mencarinya?" Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah. "Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam. "Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang palingtinggi. "Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana."

* Ternyata jalan menuju keberhasilan sangatgampang,cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku. "Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah. "Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.

* Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.


Ada segerombolan orang yang berjalan di padangpasir,semua berjalan dengan berat, sangat menderita,hanya satu orang yang berjalan dengan gembira.Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?"Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barangbawaan saya sedikit."* Ternyata sangat mudah untuk memperolehkegembiraan, cukup tidak serakah dan memilikisecukupnya saja.

~ D A N

Cermin Masa Lalu


 Di masa kecil, saat pertama menyentuh benda bernama sepeda, kaki ini gemetar. Gemuruh di dada tak tertahankan sementara kedua tangan mencengkeram erat stang sepeda, padahal belum juga terkayuh pedal di kaki. Kedua mata menatap tajam menunggu lengang sepanjang jalan tertatap di depan, sebelum kayuhan pertama diayunkan. Satu kayuhan pun terayun, dan... lutut memar, lengan berdarah, ditambah kening sedikit benjol beradu kuat dengan aspal.


Menyerah? tentu tidak. Meski harus kembali terluka, menambah benjolan di sisi lain kening, atau menutup luka kemarin dengan luka yang baru, semangat tak pernah luntur demi bisa berdiri di atas sepeda roda dua. Esok hari, tambah lagi luka baru, atau luka yang sama bertambah parah, tetap saja terus berusaha mengayuh sepeda. Tiga kayuhan pertama, jatuh. Esok mendapat tujuh kayuhan, kemudian jatuh. Sebelas kayuhan, jatuh lagi dan seterusnya entah sudah keberapa ratus kali aspal jalan depan rumah itu bersahabat dengan lutut, lengan, kening ini. Hingga akhirnya jalan lurus, jalan terjal, mendaki dan turunan, hingga berlubang pun mampu dilewati dengan lincah, cepat dan yang penting, tidak lagi jatuh.

Menanjak remaja, sepeda motor pun dijajal. Tak peduli meski orang tua belum sanggup membelikannya, yang penting bisa dulu. Kali pertama menunggang kuda besi itu, ladang orang pun menjadi tempat pendaratan terbaik. Luka lama kembali terbuka, namun itu tak menyurutkan semangat. Malu rasanya tak mampu mengendarai motor layaknya semua teman lelaki di kampung. Bermodal semangat dan kepercayaan diri, ditambah sedikit gengsi kelelakian, melajulah motor tanpa lagi tersuruk di kebun singkong, tak lagi terparkir di tempat yang salah.

Di masa lalu, jatuh bangun pernah dialami. Sakit, luka, menangis, berdarah-darah menjadi sahabat sehari-hari. Tapi sakit, luka, air mata dan darah yang pernah menetes itu menjadi saksi bahwa semangat diri tak pernah padam untuk meraih keberhasilan. Tak hanya semangat, cita-cita untuk sekadar bisa melenggang mulus di atas sepeda atau motor yang begitu kuat, membuat diri rela jatuh bangun dan terluka. Sebuah pengorbanan yang harus dibayar.

Di masa lalu, kegagalan demi kegagalan pernah sangat rekat dengan diri ini. Pernah juga beberapa kesuksesan menjadi bagian kehidupan, gerimis hati ini saat menjalaninya. Jutaan jalan berlubang pernah terlalui, beberapa kali terjerembab di dalamnya. Jalan gelap begitu sering harus ditapaki, tak jarang menemui jalan buntu. Tak terbilang peluh saat mendaki, sementara senang tak terkira ketika mendapati jalan menurun. Yang membuat diri tak percaya, sungguh semuanya pernah dilalui.

Di masa silam, ada banyak sahabat baru berdatangan dan mengiringi hari-hari penuh kehangatan. Tak berbeda masanya, beberapa sahabat pernah pula meninggalkan diri, menjauh dan tak lagi pernah tahu gerangan dirinya. Pilu ketika harus berpisah, haru saat berjumpa kembali. Begitu banyak cinta bersemi, meski di waktu yang sama ada pula yang menabur benci pada diri.

Ketika masih sama-sama di bangku pendidikan, bersama sahabat mengukir mimpi. Melukis masa depan, membayangkan akan menjadi apa diri ini kelak, usia berapa menikah, seperti apa pasangan hidup nanti, berapa banyak anak yang dihasilkan, apa jenis kendaraan yang diinginkan, rumah sebesar apa yang didambakan, berapa banyak yang diinginkan saat kali pertama gajian, dan apa yang ingin dibeli dengan gaji pertama itu.

Waktu berlalu, mimpi terlewati, ada yang terwujud, tak sedikit yang menguap bersama awan di langit. Lukisan masa depan semakin buram, tak lagi jernih seperti saat pertama ditorehkan di atas kanvas harapan. Ada yang menyesali langkah tak tepat yang pernah ditempuh, ada yang mensyukuri karena tak selamanya apa yang dianggap benar, benar pula menurut Sang Maha Berkehendak.

Kita memang tak pernah bisa tahu yang akan terjadi besok, tetapi kita pernah punya masa lalu yang telah banyak memberi pengajaran. Kita pernah jatuh, terpuruk, sedih, bahagia, manis, pahit, terbang, menangis, tertawa, sendiri, bersama, di masa lalu. Sedangkan masa depan, kita hanya bisa mengukirnya di dalam bingkai mimpi, hanya bisa mengira, merencana dan merekayasa. Justru karena itulah, kita mesti belajar dari masa lalu. Karena masa lalu telah pernah mengajarkan semuanya. Bercermin dari masa lalu, agar rencana dan rekayasa untuk mimpi masa datang lebih mendekati kenyataan.

~ Bayu Gawtama

Sabtu, 12 Januari 2013

(: Tangisan Bumi :)


Mendung merayu sendu ...

Menerkam mentari yang enggan bersembunyi

Merangkul gugusan awan, menarik kawanan angin ...

Perlahan, barisan burungpun mulali bernyanyi

Mengiringi sunyi sepi ini

Tik ...
Tik ...
Tik ...

Tetesan air berbondong-bondong menghampiri

Guntur menggelegar, cetar membahana

Mewarnai kesunyian dunia fana

Seolah tak mengira, tatkala bumi tlah menangis.

oleh : Yoga Febriana :)

Balada Anak Piyatu



Seorang anak menangis sendu
Sendiri memikirkan sesuatu
Tak ada satupun, ia katakan ketika itu
Dengan suara hati terus merintih pilu ….

Hari-hari dilewatinya …
Tanpa seorang yang sangat berarti baginya
Rasanya …
Bagaikan rintihan hati yang terus menikam sanubari

Setiap hari ia hanya diam dan membisu
Dan ternyata, hatinya haru biru
Ia memikirkan ibunya …
Yang telah tiada memikirkan dirinya
Karena penyakit yang terlalu lama diderita

Bahkan, iapun rela …
Rela memutuskan sekolahnya, demi sang Ibu tercinta
Adiknya yang masih kecil, tak lupa …
Ayahnya yang tak mampu lagi tuk bekerja
Yang akhirnya, memaksanya tuk jadi tulang punggung keluarga …

Tinggal bersama ayah juga adik tercinta
Tanpa seorang ibu disisinya …
Berdomisili disebuah rumah, beralaskan tanah
Beratap jerami, berdindingkan anyaman bambu tua

Bila dimalam gelap sunyi sepi
Hanya terdengar suara bambu yang tergoyahkan angin
Suara jangkrik yang begitu menggelitik
Tak lupa, nada tangisan adiknya karena lapar
Yang setia mengiringi …



Bait-bait tragedi
Lantunkan senandung sendu, yang terus menghantui
Meniti jalan terjal …
Sebagai kabut dalam kehidupan

Tapi, dengan sebuah kepercayaan diri
Percaya …,bahwa ibunya masih setia disisi
Menjaga, menemani dirinya …
Hingga kelak ia tiada dan untuk selamanya …



By : Yoga F./31/VIII-A (puisi smp)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Kamis, 18 Juli 2013

Sujudku...

Diposting oleh Yoga Febriana di 07.09 0 komentar

Dalam hening ku meminta
Sejuta do'a, sejuta harap kupanjatkan...

Nafasku bertasbihkan nama-Mu
Fikirku tak lepas dari semua angan tentang-Mu
Pandangku bertatap ayat-ayat suci-Mu
Di kanan kiriku terdengar jelas pujian suci asma-Mu

Dikala aku bersorak gembira
Dikala aku dilanda duka
Dikala aku berputus asa
Dikala aku berlumur dosa
Dikala aku dijemput sang pencabut nyawa
Kumeminta dalam sujudku...
Izinkanlah ku menyebut asma-Mu 


Dari lubuk hatiku: Yoga Febriana


Minggu, 23 Juni 2013

Fatamorgana

Diposting oleh Yoga Febriana di 19.35 0 komentar
Menyisir kelam yang dilanda kehampaan
Terdekap sunyi rawan petaka
Disela – sela angin yang berhembus
Diantara sorotan balik sinar – sinar tajam
Bergerak lantang melaju, menikung
Bertubi – tubi suara sengau mengintai
Ribuan roda bahkan saling beradu
Tak pandang, sekecil butir pasir ataukah sebesar batu gunung
Hantaman – hantaman keras
Gesekan – gesekan miris
Tak mampu hindari, kerasnya menekan mendesak
Tersingkir dari arena, membuat semakin tersungkur
Membiru, menjadi – jadi bahkan mati
Ya ! Diatas derai – derai fatamorgana ini mereka berlalu
Terus berpacu...


Tertanda: Yoga Febriana

Selasa, 28 Mei 2013

UNFORGETTABLE !

Diposting oleh Yoga Febriana di 07.39 0 komentar
Secuil kisah yang berawal dari perjumpaan 2 Juli 2012, ketika kita belum saling mengenal :)




Dari perjumpaan itu, perlahan kita mengenal 31 karakter berbeda :')







Percikan canda tawamu, selalu mengalir dalam sanubariku KAWAN :')









Saling menuntun, berbenah diri tuk menata serpihan rohani :)








Dengan kemurnian jiwa, bersama kita tuangkan sejuta imajinasi dalam sebuah ilustrasi :D





Sahabatku, ingatkah dikau dikala kita berbagi kasih, suka dan duka dengan saudara kita? :)







Ingat? Ketika 5 Mei bercerita? Susah, senang, kita lewati bersama KAWAN :')










Meskipun waktu terus berjalan
Meskipun kita tak mampu tuk hentikan..
Meskipun kita terpisahkan keadaan
Meskipun kita tak mampu tuk bertahan..
Kita tetap satu ! Kita tetap satu !
Kita tetap kita yang telah menyatu..
Kita tetap kita yang senantiasa berduka, tertawa bersama...



KITA TETAP KITA, REMAJA UNIK SEPULUH HA !


Meskipun...

Diposting oleh Yoga Febriana di 05.57 0 komentar
Teruntuk: RUSH

Meskipun waktu terus berjalan
Meskipun kita tak mampu tuk hentikan...
Meskipun mentari terus menyengat
Meskipun kita tak mampu tuk menghambat...
Meskipun tawa selalu menggelitik
Meskipun kita tak mampu tuk berkutik...


Meskipun duka kadang datang
Meskipun kita tak mampu tuk menghadang...
Meskipun masalah silih berganti menyakiti
Meskipun kita tak mampu tuk hianati...
Meskipun kemenangan sulit diraih
Meskipun kita tak mampu tuk berdalih...
Meskipun kekalahan mudah menerpa
Meskipun kita tak mampu tuk menyangka...
Meskipun keadaan memisahkan
Meskipun kita tak mampu tuk bertahan
Meskipun kebersamaan itu lenyap
Meskipun kita tak mampu tuk berharap
Kita tetap satu ! Dan kita tetaplah satu !
Kita tetap kita yang telah menyatu
Kita tetap kita yang senantiasa tertawa
Kita tetap kita yang senantiasa bersama
Dan kita tetap kita Remaja Unik Sepuluh Ha...

Olehku: 13767



Jumat, 17 Mei 2013

Lukisan Senja

Diposting oleh Yoga Febriana di 03.52 0 komentar

Tatkala mentari tlah menundukkan sinarnya
Meranggas, meninggalkan dunia
Grombolan awan mulai terpendam
Terkubur sinar yang tenggelam
Tertusuk angin yang menerpa...

Desiran ombak menghantam pantai
Terbuai senandung nyiur melambai
Barisan burung bernyanyi sayu
Berpacu, beradu menantang sendu...

Olehku: Yoga Febriana :)

Sabtu, 06 April 2013

CAPTURE LIFE

Diposting oleh Yoga Febriana di 19.18 0 komentar

 I need the Lord to do something in my life, to show me everything's going to be okay!


there's always something beautiful outside :)




My ambition is to be HAPPY :D








Sabtu, 02 Maret 2013

Hidup itu Sederhana...

Diposting oleh Yoga Febriana di 15.44 0 komentar

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah,dan hal itu terlihat oleh penginterview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

* Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap.Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.

* Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik. "Ibu menjawab: "Mengapa?" Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah."

* Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur. "Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."

* Ternyata membina seorang anak sangat mudah,cukup membiarkan dia rajin bekerja.

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan,bagaimana cara mencarinya?" Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah. "Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam. "Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang palingtinggi. "Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana."

* Ternyata jalan menuju keberhasilan sangatgampang,cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku. "Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah. "Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.

* Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.


Ada segerombolan orang yang berjalan di padangpasir,semua berjalan dengan berat, sangat menderita,hanya satu orang yang berjalan dengan gembira.Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?"Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barangbawaan saya sedikit."* Ternyata sangat mudah untuk memperolehkegembiraan, cukup tidak serakah dan memilikisecukupnya saja.

~ D A N

Cermin Masa Lalu

Diposting oleh Yoga Febriana di 15.36 0 komentar

 Di masa kecil, saat pertama menyentuh benda bernama sepeda, kaki ini gemetar. Gemuruh di dada tak tertahankan sementara kedua tangan mencengkeram erat stang sepeda, padahal belum juga terkayuh pedal di kaki. Kedua mata menatap tajam menunggu lengang sepanjang jalan tertatap di depan, sebelum kayuhan pertama diayunkan. Satu kayuhan pun terayun, dan... lutut memar, lengan berdarah, ditambah kening sedikit benjol beradu kuat dengan aspal.


Menyerah? tentu tidak. Meski harus kembali terluka, menambah benjolan di sisi lain kening, atau menutup luka kemarin dengan luka yang baru, semangat tak pernah luntur demi bisa berdiri di atas sepeda roda dua. Esok hari, tambah lagi luka baru, atau luka yang sama bertambah parah, tetap saja terus berusaha mengayuh sepeda. Tiga kayuhan pertama, jatuh. Esok mendapat tujuh kayuhan, kemudian jatuh. Sebelas kayuhan, jatuh lagi dan seterusnya entah sudah keberapa ratus kali aspal jalan depan rumah itu bersahabat dengan lutut, lengan, kening ini. Hingga akhirnya jalan lurus, jalan terjal, mendaki dan turunan, hingga berlubang pun mampu dilewati dengan lincah, cepat dan yang penting, tidak lagi jatuh.

Menanjak remaja, sepeda motor pun dijajal. Tak peduli meski orang tua belum sanggup membelikannya, yang penting bisa dulu. Kali pertama menunggang kuda besi itu, ladang orang pun menjadi tempat pendaratan terbaik. Luka lama kembali terbuka, namun itu tak menyurutkan semangat. Malu rasanya tak mampu mengendarai motor layaknya semua teman lelaki di kampung. Bermodal semangat dan kepercayaan diri, ditambah sedikit gengsi kelelakian, melajulah motor tanpa lagi tersuruk di kebun singkong, tak lagi terparkir di tempat yang salah.

Di masa lalu, jatuh bangun pernah dialami. Sakit, luka, menangis, berdarah-darah menjadi sahabat sehari-hari. Tapi sakit, luka, air mata dan darah yang pernah menetes itu menjadi saksi bahwa semangat diri tak pernah padam untuk meraih keberhasilan. Tak hanya semangat, cita-cita untuk sekadar bisa melenggang mulus di atas sepeda atau motor yang begitu kuat, membuat diri rela jatuh bangun dan terluka. Sebuah pengorbanan yang harus dibayar.

Di masa lalu, kegagalan demi kegagalan pernah sangat rekat dengan diri ini. Pernah juga beberapa kesuksesan menjadi bagian kehidupan, gerimis hati ini saat menjalaninya. Jutaan jalan berlubang pernah terlalui, beberapa kali terjerembab di dalamnya. Jalan gelap begitu sering harus ditapaki, tak jarang menemui jalan buntu. Tak terbilang peluh saat mendaki, sementara senang tak terkira ketika mendapati jalan menurun. Yang membuat diri tak percaya, sungguh semuanya pernah dilalui.

Di masa silam, ada banyak sahabat baru berdatangan dan mengiringi hari-hari penuh kehangatan. Tak berbeda masanya, beberapa sahabat pernah pula meninggalkan diri, menjauh dan tak lagi pernah tahu gerangan dirinya. Pilu ketika harus berpisah, haru saat berjumpa kembali. Begitu banyak cinta bersemi, meski di waktu yang sama ada pula yang menabur benci pada diri.

Ketika masih sama-sama di bangku pendidikan, bersama sahabat mengukir mimpi. Melukis masa depan, membayangkan akan menjadi apa diri ini kelak, usia berapa menikah, seperti apa pasangan hidup nanti, berapa banyak anak yang dihasilkan, apa jenis kendaraan yang diinginkan, rumah sebesar apa yang didambakan, berapa banyak yang diinginkan saat kali pertama gajian, dan apa yang ingin dibeli dengan gaji pertama itu.

Waktu berlalu, mimpi terlewati, ada yang terwujud, tak sedikit yang menguap bersama awan di langit. Lukisan masa depan semakin buram, tak lagi jernih seperti saat pertama ditorehkan di atas kanvas harapan. Ada yang menyesali langkah tak tepat yang pernah ditempuh, ada yang mensyukuri karena tak selamanya apa yang dianggap benar, benar pula menurut Sang Maha Berkehendak.

Kita memang tak pernah bisa tahu yang akan terjadi besok, tetapi kita pernah punya masa lalu yang telah banyak memberi pengajaran. Kita pernah jatuh, terpuruk, sedih, bahagia, manis, pahit, terbang, menangis, tertawa, sendiri, bersama, di masa lalu. Sedangkan masa depan, kita hanya bisa mengukirnya di dalam bingkai mimpi, hanya bisa mengira, merencana dan merekayasa. Justru karena itulah, kita mesti belajar dari masa lalu. Karena masa lalu telah pernah mengajarkan semuanya. Bercermin dari masa lalu, agar rencana dan rekayasa untuk mimpi masa datang lebih mendekati kenyataan.

~ Bayu Gawtama

Sabtu, 12 Januari 2013

(: Tangisan Bumi :)

Diposting oleh Yoga Febriana di 17.10 0 komentar

Mendung merayu sendu ...

Menerkam mentari yang enggan bersembunyi

Merangkul gugusan awan, menarik kawanan angin ...

Perlahan, barisan burungpun mulali bernyanyi

Mengiringi sunyi sepi ini

Tik ...
Tik ...
Tik ...

Tetesan air berbondong-bondong menghampiri

Guntur menggelegar, cetar membahana

Mewarnai kesunyian dunia fana

Seolah tak mengira, tatkala bumi tlah menangis.

oleh : Yoga Febriana :)

Balada Anak Piyatu

Diposting oleh Yoga Febriana di 17.07 0 komentar


Seorang anak menangis sendu
Sendiri memikirkan sesuatu
Tak ada satupun, ia katakan ketika itu
Dengan suara hati terus merintih pilu ….

Hari-hari dilewatinya …
Tanpa seorang yang sangat berarti baginya
Rasanya …
Bagaikan rintihan hati yang terus menikam sanubari

Setiap hari ia hanya diam dan membisu
Dan ternyata, hatinya haru biru
Ia memikirkan ibunya …
Yang telah tiada memikirkan dirinya
Karena penyakit yang terlalu lama diderita

Bahkan, iapun rela …
Rela memutuskan sekolahnya, demi sang Ibu tercinta
Adiknya yang masih kecil, tak lupa …
Ayahnya yang tak mampu lagi tuk bekerja
Yang akhirnya, memaksanya tuk jadi tulang punggung keluarga …

Tinggal bersama ayah juga adik tercinta
Tanpa seorang ibu disisinya …
Berdomisili disebuah rumah, beralaskan tanah
Beratap jerami, berdindingkan anyaman bambu tua

Bila dimalam gelap sunyi sepi
Hanya terdengar suara bambu yang tergoyahkan angin
Suara jangkrik yang begitu menggelitik
Tak lupa, nada tangisan adiknya karena lapar
Yang setia mengiringi …



Bait-bait tragedi
Lantunkan senandung sendu, yang terus menghantui
Meniti jalan terjal …
Sebagai kabut dalam kehidupan

Tapi, dengan sebuah kepercayaan diri
Percaya …,bahwa ibunya masih setia disisi
Menjaga, menemani dirinya …
Hingga kelak ia tiada dan untuk selamanya …



By : Yoga F./31/VIII-A (puisi smp)
 

Story Of ► Yog∂ Febri∂n∂ ◄ | Designed by www.rindastemplates.com | Layout by Digi Scrap Kits | Author by Your Name :)